Jumat, 18 Maret 2016

Makalah Indikator Pembangunan dan Tingkat Kesejahteraan di RW 5 Desa Situjaya




KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur di panjatkan kepada Allah SWT.Alhamdulillah pada akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah dengan judul “Indikator Pembangunan dan Tingkat Kesejahteraan di RW 5 Desa Situjaya” yang merupakan salah satu tugas mata kuliah Ekonomi Pembangunan.
Penulis  menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangannya,baik secara redaksi maupun tata bahasa.Oleh karena itu, kritik dan saran penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah ini.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat bantuan dari semua pihak yang dalam kesempatan ini sudah sepantasnya penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah membantu, terutama kepada Bapak H.Nia Gania K sebagai Dosen pembingbing  selama pembelajaran.
Terima kasih yang tak terhingga, penulis sampaikan kepada keluarga , serta sahabat  dan kolega penulis yang senantiasa mendorong dan mengingatkan agar menjalani proses Belajar ini dengan baik.
Akhirnya kepada Alloh jualah kita semua berserah diri.


                                                                                        Garut, Maret 2015






                                                                                        Penulis










DAFTAR ISI

Kata Pengantar ...........................................................................................                        1
Daftar Isi.......................................................................................................                        2
Bab 1 Pendahuluan ....................................................................................                        3           
1.1.   Latar Belakang ................................................................................                        3
1.2.   Tujuan Pembahasan .........................................................................                        4
Bab 2 Landasan Teori ................................................................................                        5
       2.1  Pengertian dan Makna Pembangunan .............................................                        5
       2.1. Proses Pembangunan ......................................................................                        6
       2.3. Indikator Pembangunan ..................................................................                        6
2.3.1  Pradigma Tradisional .............................................................                        6
2.3.2. Paradigma Baru .....................................................................                        7
Bab 3 Gambaran Umum ............................................................................                        9
3.1. Gambaran Umum dan Kedudukan RW 5 .......................................                        9
Bab 4 Pemabahasan ...................................................................................                        10
4.1 Proses Pembangunan di RW 5 ..........................................................                        10         
4.2. Indikator Ekonomi dan Sosial serta Indikator Lain yang Telah Dicapai                 10
4.3. Tingkat Kesejahteraan di RW 5 .......................................................                        11
4.3.1 Aspek IPM (Indek Pembangunan Masyarakat) ......................                        11
4.3.2 Ukuran Kesejahteraan RW 5...................................................                       12
Bab 5 Kesimpulan .......................................................................................                        14
Daftar Pustaka ............................................................................................                        15


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Indikator keberhasilan pembangunan suatu daerah adalah semakin meningkatnya kesejahteraan penduduk daerah yang bersangkutan. Dengan semakin meningkatnya pemerataan kesejahteraan penduduk menyebabkan tingkat kemiskinan dan pengangguran dapat diminimalisir. Proses pemerataan kesejahteraan penduduk tentunya bukan suatu hal yang gampang, mengingat sulitnya indikator-indikator yang harus dipenuhi agar kesejahteraan penduduk dapat tercapai. Untuk menilai keberhasilan pembangunan, ada syarat yang diperlukan untuk mengukur atau menunjukkan tingkat keberhasilan pembangunan. Syarat itu harus dimulai dari tingkat pemahaman semua komponen terkait indikator-indikator/variabel-variabel pembangunan serta pengertian penerapan kebijakan dan hasil dari proses pelaksanaan kebijakan. Pemahaman memadai tentang indikator pembangunan, menunjukan semakin terarah pelaksanaan pembangunan dan semakin tingginya responsif masyarakat dalam menyukseskan dan mencapai sasaran yang ditargetkan dari progres yang ada. Terkait indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan (pembangunan), dianggap perlu mendapatkan perhatian semua pihak terutama dari pihak pengambil keputusan. ”. Pembangunan harus dilakukan terus menerus agar kekurangan yang dimiliki suatu daerah dapat tertutupi oleh pesatnya pembangunan yang berjalan. Proses pembangunan, merupakan suatu perubahan sosial budaya. Pembangunan agar menjadi suatu proses yang dapat bergerak maju atas kekuatan sendiri tergantung kepada manusia dan struktur sosialnya. Jadi bukan hanya yang dikonsepsikan sebagai usaha untuk mengejar pertumbuhan ekonomi belaka. Pembangunan tergantung dari suatu innerwill, proses emansipasi diri dan suatu partisipasi kreatif dari semua kalangan menuju pada pembaharuan segala aspek.
 Makalah  ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi tingkat kesejahteraan di RW 5 desa Situjaya serta yang  berkaitan dalam pembangunan ekonomi.
1.2  Tujuan Pembahasan
1.2.1        Untuk Menggambarkan Proses Pemabngunan di RW 5 Desa Situjaya
1.2.2        Menjelaskan Indikator Ekonomi dan Sosial serta Indikator Lain yang telah Dicapai RW 5
1.2.3        Menjelaskan Tingkat Kesejahteraan di RW 5































BAB II
LANDASAN TEORI


2.1  Pengertian dan Makna Pembangunan

Teori pembangunan dalam ilmu social dapat dibagi ke dalam dua paradigma besar, modernisasi dan ketergantungan. Paradigma modernisasi mencakup teori-teori makro tentang pertumbuhan ekonomi dan perubahan social dan teori-teori mikro tentang nilai-nilai individu yang menunjang proses perubahan. Paradigm ketergantungan mencakup teori-teori keterbelakangan (under development) ketergantungan (devendent development) dan system dunia (world system theory) sesuai dengan klasifikasi Larrain. Sedangkan Tikson membaginya ke dalam tiga klassifikasi teori pembangunan, yaitu modernisasi, keterbelakangna dan ketergantungan. Dari berbagai paradigm tersebut itulah kemudian muncul berbagai versi tentang pengertian pembangunan.
Mengenai pengertian pembanguann, para ahli memberikan definisi yang bermacam-macam seperti halnya perencanaan. Dalam hal ini, pembangunan dapat diartikan sebagai ‘suatu upaya terkoordinasi untuk menciptkana alternative yang lebih banyak secara sah kepada setiap warga Negara untuk memenuhi dan mencapai aspirasinya yang paling manusiawi.
Alexander menyebutkan bahwa pembangunan (development) adalah suatu proses perubahan yang mencakup seluruh system social, seperti politik, ekonomi, infastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan dan budaya. Dan Siagian memberikan pengertian tentang pembangunan sebagai ‘suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dialkukan secara sadar oleh suatu bangsa, Negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building).
Dengan demikian, sebagaiamna yang dikemukakan oleh para ahli diatas,pembangunan adalah suatu proses perubahan yang dilakukan melalui upaya-upaya secara sadar dan terncana. Dan makna penting dari pembangunan adalah adanya kemajuan atau perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.
2.2  Proses Pembangunan

Proses pembangunan, merupakan suatu proses untuk mendapatkan kesejahteraan dalam segala aspek kehidupan, termasuk kesejahteraan dalam bidang ekonomi, social(agama, pendidikan, kesehatan, budaya), kesejahteraan dalam bidang politik , serta dalam bidang hukum.
Dengan demikian,proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, yang berlangsung pada level makro dan mikro. Oleh karena itu, proses pembnagunan yang menuju pada perubahan mendasar dilaksanakan tidak secepat membalikan telapk tangan, pembnagunan harus dilakukan terus menerus agar kekurangan yang dimiliki suatu daerah dapat tertutupi oleh pesatnya pembangunan yang berjalan serta dimulai dari proses yang panjang dan lama sesuai tahapan. Proses pembangunan juga tidak terjadi dengan sendirinya tetapi memerlukan usaha yang konsisten.
2.3  Indikator Pembangunan
Indicator pembangunan merupakan tolak ukur yang digunakan dalam mengukur performa suatu Negara dalam pencapaian pembangunannya, serta perbandingan terhadap Negara-negara lain.
Dalam hal ini, makna economic development mengakibatkan terjadinya evolusi pada alat ukurnya, yaitu paradigma tradisional dan paradigma baru (1950an – 1960an).
2.3.1        Paradigma Tradisional
Pembangunan ekonomi disama artikan dengan pertumbuhan ekonomi. Dengan demikian digunakanlah pertumbuhan GNP(Gross Nation Product) sebagai indicator pembangunan. Maka indicator alternative, yang ternyata lazim digunakan hingga kini adalah GNP per kapita.
2.3.2        Paradigma baru (1950an-1960an)
Saat GDP growth ≠ tingkat kesejahteraan bangsanya, signal negative terhadap makna pembangunan.
Sejak itulah pembangunan ditekankan sebagai proses yang multidimensional dalam rangka pertumbuhan ekonomi, pemerataan distribusi pendapatan, serta pengentasa kemiskinan. Ini menunjukkan bahwa indicator pembangunan yang harus digunakan tidak hanya indicator ekonomi. Melainkan indicator-indikator social, seperti Human Development Index (HDI) dan Physical Quality Of Life Index (PQLI) juga mempengaruhi indicator pembanguann suatu negara terhadap Negara lain.
a.       Human Development Index (HDI)
Produk pembangunan yang ingin dicapai HDI dalah sebagai berikut :
1.      Health and longevity (as measured by life expectancy at birth) usia panjang yang di ukur dengan tingkat harapan hidup
2.      Education, pengetahuan yang diukur dengan rata-rata tertimbang dari jumlah dewasa yang dapat membaca dan rata-rata tahun lama sekolah.
3.      Living standard
b.      Physical Quality Of Life Index (PQLI)
PQLI atau lazim disebut indek mutu hidup merupakan salah salah satu indicator komposit yang digunakan untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat. IMH ini merupakan gabungan dari tiga indicator tunggal yaitu Angka Kematian, Angka Harapan Hidup dan Angka Melek Hurup.
Di Indonesia Human Development Index di jabarkan menjadi IPM (Indek Pembangunan Manusia) :
1.      Angka Harapan Hidup
2.      Indek Pendidikan (angka melek hurup dan rata-rata lama sekolah)
3.      Daya beli masyarakat
IPM =
Indek Pembangunan Masyarakat
Indicator
Kondisi buruk
Ideal
Target
AHH
25
85
60
AMH
0
100
100
RLS
0
15
15
IDB-PP
367.000
737.720
437.000
















BAB III
GAMBARAN UMUM

3.1.  Gambaran Umum dan Kedudukan RW 5

RW 5 merupakan salah satu kampung yang berada di Desa Situjaya dan merupakan salah satu RW yang letaknya sangat strategis diantara RW lainya,karena letaknya yang berada dekat dengan jalan raya dan akses transfortasi yang mudah. RW 5 terletak di Desa Situjaya Kecamatan Karangpawitan.
RW 5 terdiri dari 2 Rukun Tetangga, yaitu dimana jumlah kepala keluarganya 132. RT 2 65 KK dan RT 2 67 KK. Jumlah penduduknya mencapai 655 jiwa.
Batas wilayah RW 5, sebelah timur berbatasan dengan RW 8, sebelah barat berbatasan dengan RW 7, sebelah utara berbatasan dengan RW 4 dan sebelah selatan berbatasan dengan SMPN 2 Karangpawitan dan Instalansi Pertanian.
Kegiatan sehari-hari penduduk di RW 5 yaitu ada yang sebagai buruh tani, buruh industry bata, berdagang, dan guru. Tetapi sabagian mayoritasnya adalah sebagai buruh tani, karena di RW 5 ada instalansi pertanian milik pemerintah. Jadi banyak sekali penduduk RW 5 yang bekerja di intalansi tersebut. Dan kehidupan ekonominyapun sangat bergantung pada instalansi pertanian tersebut.
Selain itu juga dilihat dari infrastruktur umumnya, RW 5 memiliki sarana ibadah yang memadai selain tempat ibadah, madrasah tersebut dipergunakan untuk Madrasah Diniyah yang dilaksanakan pada sore hari, sehingga sampai petang anak-anak dan remaja tetap beraktifitas kegiatan keagamaan.



BAB IV
PEMBAHASAN

4.1  Proses Pembangunan di RW 5
Proses pembangunan di RW 5 kalau dilihat dari dokumen fisik tidak ada,tetapi program-program yang direncanakan oleh ketua RW 5 lumayan bertahap dan terealisasikan. Pembangunan infrastruktur dan sarana umumpun lumayan berkembang. Seperti yang telah disampaikan oleh ketua RW 5 bahwa ada indicator-indikator  dan variable lain yang mempengaruhi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
4.2  Indikator Ekonomi dan Sosial serta Indikator Lain yang telah Dicapai
Indicator ekonomi merupakan salah satu indikator yang mempenaruhi pembangunan di RW 5, seperti halnya pendapatan penduduk RW 5 yang rata-ratanya Rp.1.005.000 per bulan dengan pekerjaan rata-rata buruh tani dan pedagang rumahan. Kegiatan ekonomi RW 5 di dorong oleh beberapa kegiatan seperti berdagang, bertani dan ada sebagaian berprofesi sebagai guru.
Dalam bidang sosialpun di dorong oleh beberapa kegiatan seperti di bidang pendidikan yaitu rata-rata lama sekolah penduduk di RW 5 yaitu 9 tahun. Begitu juga untuk menekan angka kemiskinan dan pengangguran , RW 5 juga mempriotaskan pendidikannya. Walau hanya sebagian dari masyarakat yang melanjutkan ke tingkat SMA dan perguruan tinggi. Dan tingkat angka melek huruf di RW 5 lumayan tinggi meskipun tidak 100 %.
Di bidang kesehatan (angka harapan hidup) , untuk dapat memberikan kesejahteraan di bidang kesehatan kepada masyarakat, RW 5 berusaha memberikan infastruktur yang lumayan lengkap dalam bidang yang bersangkutan. Salah satu indikator yang menjadi target RW 5 adalah angka harapan hidup masyarakat yang saat ini rata-rata mencapai 61 tahun. Dengan adanya puskesmas dan bidan turut membantu RW 5 untuk meningkatkan angka harapan hidup masyarakatnya. Serta ada beberapa program pemerintah , seperti posyandu dan BPJS.
Untuk daya beli masyarakat di RW 5 dapat dikatakan cukup baik. Pendapatan penduduk yang rata-rata Rp.1.005.000 per bulan dengan pekerjaan rata-rata buruh tani dan berdagang.
4.3  Tingkat Kesejahteraan di RW 5
4.3.1        Aspek IPM (Indek Pembangunan Masyarakat)
Indicator pembangunan RW 5 :
AHH                : 61 tahun
AMH               : 99 %
RLS                  : 9 tahun
Daya beli          : 600.000
IPM =
IHH = (61 - 25) : (85 - 25) X 100 % = 60 %
IMH = (99 - 0) : (100 - 0) X 100 % = 99 %
ILS = (9 - 0) : (15 - 0) X 100 % =60 %
IP = IMH ( ) + ILS ( )
   = (99 % X 2) + (60 X 1) = 86
                                             3               3
                        IDB = (600.000 – 300.000) : (737.720 – 300.000) X 100 %
                                = 68.5 %

                        IPM =  X 100 % = 71.5 
                       
                       
Kategori
Rasio
Tinggi
80 -100
Sedang
51 – 79
Rendah
0 – 50


4.3.2        Ukuran Kesejahteraan RW 5
No
Uraian
Jumlah
Criteria
Nilai Riil
Harapan
1
Pendapatan
800.000
Sedang
2
3
2
AHH
61
Tinggi
3
3
3
RLS
SMP
Tinggi
3
3
4
AMH
99 %
Sedang
2
3
5
Tempat Tinggal
95%
Layak Huni
Tinggi
3
3
6
Sarana Olahraga
-          Volley
-          Futsal

1
1

Cukup tinggi
Cukup tinggi

2
2

3
3
7
Fasilitas pendidikan :
-          PAUD
-          SD

1
1

Cukup tinggi
Cukup tinggi

2
2

3
3
8
Fasilitas keagamaan:
-          Mesjid
-          Madrasah

1
2

Cukuptinggi
Cukup tinggi

2
2

3
3
9
Mini market
1
Tinggi
3
3
10
Instansi Pertanian
1
Tinggi
3
3
11
Kep.mobil
O,1 %
Rendah
1
3
12
Kep.motor
50 %
Tinggi
3
3
13
Puskesmas
1
Memadai
3
3
14
Posyandu
1
Memadai
3
3
15
Bidan
1
Memadai
3
3

Jumlah


46
54

Dari table diatas dapat dihitung tingkat kesejahteraan masyarakat RW 5 dengan criteria penilaian tingkat kesejahteraan adalah sebagai berikut:
          
Kategori
Rasio
Tinggi
3
Sedang
2
Rendah
1

IPM = Jumlah Rasio
                        3
            = 46 = 15,3
                            3
Criteria
Rasio
Sejahtera
30 – 54
Cukup sejahtera
15 – 31
Tidak sejahtera
0 - 14


BAB V
KESIMPULAN

5.1   Proses pembangunan di RW 5 kurang terencana, karena tidak adanya dokumen fisik dan krangnya planning yang di buat oleh ketua RW 5. Tetapi, RW lumayan berkembang secara bertahap dan mulai mereleasisakan program baru untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
5.2  indikator ekonomi dan social di RW 5 cukup memadai,
5.3  Berdasarkan ukuran IPM dan memperhatikan table tingkat kesejahteraan di RW 5 termasuk kategori sedang.















DAFTAR PUSTAKA & REFERENSI

http : www.ekonomi pembangunan.com
Mudrajadkuncoro . 1997, Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta
Wawancara dengan ketua RW 5 Desa Situjaya